Membahas Tentang Tips dan Trick Kesehatan Beserta Segala Macam Jenis Penyakit

Mengintip Alesan Para Perkok Untuk Merekok Berlanjut

Artikel terkait : Mengintip Alesan Para Perkok Untuk Merekok Berlanjut

Ada banyak alasan merokok yang kerap terlontar dari para perokok. Diantaranya menyangkut masalah pencitraan sebagai lelaki. Alasan ini muncul akibat cibiran atau ejekan teman-temannya yang sudah merokok terlebih dahulu. Begitu juga dengan alasan untuk mempererat pergaulan terutama karena lingkungannya turut berpengaruh terhadap kebiasaan merokok itu. Namun, alsan-alasan tersebut sangatlah tidak masuk akal mengingat bahaya yang mengancam ketika orang mengkonsumsi rokok dan menjadi pecandu rokok.

Mengintip Alesan Para Perkok Untuk Merekok Berlanjut
Mengintip Alesan Para Perkok Untuk Merekok Berlanjut

Alasan pencitraan seorang laki-laki menjadi sebuah kesia-siaan diri karena pencitraan seorang laki-laki tidak hanya terlihat dari orang tersebut merokok atau tidak, melainkan karena pola fikir dan kedewasaan yang dimilikinya. Sedangkan alasan karena solidaritas merupakan hal yang tidak etis dimana kesolidaritasan hanya ditunjukkna karena orang tersebut merokok saja. Perlulah kita ketahui bahwa merokok tidaklah memberikan manfaat bagi kita melainkan bahaya yang mengancamk jiwa bagi para pecandu rokoknya tersebut.

Pemerintah memiliki kewajiban melindungi warganya terhadap berbagai pengaruh yang dapat menyebabkan terjadinya gangguan kesehatan. Termasuk dalam melakukan kampanye maupun seruan terhadap dampak buruk dari merokok. Namun dibalik seruan dan kampanye bahaya rokok itu tentunya kita juga perlu mengetahui alasan merokok dari para perokok itu sendiri. Walaupun apapun alasannya merokok itu tetaplah menyakiti diri sendiri dan beberapa orang malah mengharamkannya.

Surga Rokok

Indonesia adalah surga para perokok. Karena negeri ini adalah surga perokok, tentunta para perokok dengan mudahnya mendapatkan rokok dalam bentuk dan jenis apapun. Harga cukai rokok yang selangit tak menghentikan para perokok dari menghentikan aktivitasnya. Kalaupun mereka sampai merasa sakit dan harus terbaring beberapa saat di rumah sakit, rokok tetap menjadi pengalihan perasaan dan pikiran setelah mereka sembuh.

Bahkan seorang perokok yang telah terkena stroke dan telah juga meracuni keluarganya hingga istrinya meninggal karena penyakit yang disebabkan oleh asap rokok, tetap saja merokok diusianya yang sudakh berkepala 8. Inilah gambaran betapa hebatnya pengaruh rokok terhadap orang-orang yang telah bersentuhan dengannya. Alasan yang dikemukakan memang terlihat masuk akal. Mereka merasa mulutnya asam kalau tidak merokok.

Alasan ini sebenarnya bisa diatasi dengan melakukan detoksifikasi dan sering minum jus wortel dan makan apel. Dengan semakin banyak makan buah dan sayur, perokok lama-lama akan merasa asam dan tidak enak kalau merokok. Memang sulit menghentikan kebiasaan yang telah dilakukan selama puluhan tahun. Namun, dengan keinginan yang sangat kuat, seorang perokok yang telah merokok selama lebih dari 30 tahun pun akhirnya bisa berhenti merokok.

Tidak ada istilah merokok demi pergaulan. Setelah berhenti merokok, artinya terputus sama sekali dari rokok dan asap rokok. Teman-teman yang masih merokok pun agak dijauhi kalau memang bisa dilakukan. Bagaimanapun menjadi perokok pasif itu juga sangat berbahaya. Bayangkan saja seorang bapak yang perokok, rela lebih membeli rokok daripada sepotong tempe untuk anaknya. Padahal tempe itu sangat penting bagi pertumbuhan anaknya.

Bila dilihat dari pertimbangan keuangan, merokok ini sama dengan membakar uang. Namun, para perokok tidak melihatnya dari sana. Bagi mereka rokok adalah teman sejati yang sangat tahu kebutuhan mereka. Tanpa rokok, rasanya mereka malah tidak bisa berpikir jernih atau malah tidak bisa berkonsentrasi. Seolah ketergantungan ini telah membelenggu jiwa. Merokok sepertinya sama dengan penyakit otak. Mungkin bisa disamakan dengan penyakit Bulimia dan Anaroxia Nervosa.

Pengaruh rokok ini malah telah merasuki jiwa anak-anak usia dini. Dengan santai tanpa rasa berdosa anak-anak berseragam sekolah dasar menghisap rokok di pinggir jalan. Mereka merasa sangat bebas dan merasa rokok telah menaikan rasa percaya dirinya. Luar biasa sekali apa yang telah diberikan rokok kepada jiwa-jiwa murni anak bangsa itu. Orangtua bahkan tak kuasa melarang anak-anak yang telah terpengaruh lingkungan itu.

Para guru hanya bisa melarang anak-anak itu tidak merokok di sekeliling sekolah. Selanjutnya, mereka bisa saja merokok di tempat lain. Di lingkungan rumah sakit pun para perokok ini seakan tidak mampu menahan nafsunya untuk merokok. Sungguh sesuatu yang sangat keji. Para petugas yang ada di rumah sakit malah diam saja dan tidak mempunyai taring. Mereka seakan memaklumi keadaan bahwa bukan hal yang menyenangkan menunggu orang yang sakit. Merokok dianggap sebagai ajang melepaskan rasa stres.

Daripada mereka bunuh diri atau melakukan hal lain yang lebih keji lebih baik membiarkan mereka merokok. Jangankan para penunggu pasien, dokter yang merokok di tempat kerja juga ada. Luar biasa ketidakpedulian orang terhadap orang lain. Di hotel, di rumah makan yang tertulis larangan merokok pun tidak diindahkan. Inilah Indonesia, sebuah negara surga para perokok. Bangsa ini seakan tidak berdaya dibuat oleh rokok. Banyak sekali hambatan ketika rokok benar-benar dilarang.

Mata pencarian banyak orang bisa tergerus dan pemerintah sangat takut kalau tingkat pengangguran meningkat gara-gara rokok benar-benar dihanguskan atau dibatasi seperti halnya minuman keras impor. Tidak mudah memberikan solusi agar ada langkah pengurangan jumlah perokok. Merokok itu terlihat begitu menyenangkan. Padahal efek samping dan akibatnya sangat besar. Gigi yang menguning dan bau badan serta bau mulut yang tidak sedap, tidak menghentikan orang untuk berhenti merokok.

Alasan ini tentunya penting sekali untuk memahami kebiasaan merokok dari para perokok. Tentunya tidak akan menguntungkan bila anggaran yang dikeluarkan pemerintah untuk kampanye anti rokok tidak membuahkan hasil. Apalagi anggaran itu tentunya tidak kecil, baik untuk pembuatan iklan, membuat berbagai bentuk seruan, maupun berbagai bentuk kampanye lainnya.
Tuntutan Profesi

Ada banyak alasan yang kerap terlontar dari para perokok tentang kegemaran mereka menghisap rokok. Diantaranya menyangkut masalah pencitraan sebagai lelaki. Alasan ini muncul akibat cibiran atau ejekan teman-temannya yang sudah merokok terlebih dahulu. Begitu juga dengan alasan untuk mempererat pergaulan terutama karena lingkungannya turut berpengaruh terhadap kebiasaan merokok itu. Padahal kalau ingin dihentikan, masih banyak orang yang mempunyai pergaulan yang luas tanpa merokok. Malah para non perokok ini mempunyai lingkungan pergaulan yang lebih baik.

Mereka yang tidak merokok mendapatkan pergaulan yang lebih menyenangkan dengan gaya hidup yang lebih menyenangkan juga. Lihatlah apa yang terjadi pada para perokok. Lingkungannya terlihat tidak menyenangkan. Bagaimana menyenangkan kalau dalam mobil ber-AC penuh dengan asap rokok. Penyakit akan sangat mudah menyebar. Para perokok ini juga biasanya sangat egois dan tidak peduli dengan orang lain. Dalam kamar hotel atau kamar mandi ia tetap merokok. Sungguh sangat keterlaluan.

Kebiasaan merokok yang terjadi pada kaum perempuan tak sedikit disebabkan atau didorong oleh pengaruh pergaulan maupun tuntutan profesi. Para artis, selebriti, maupun para pengusaha umumnya membutuhkan media yang dapat merekatkan hubungan maupun jaringan mereka. Salah satunya melalui rokok. Mereka merasa bahwa pergaulan dengan rokok ini sangat santai dan bisa membina hubungan yang jauh lebih baik.

Selain itu, kebiasaan merokok juga berhubungan dengan reaksi tubuh terhadap lingkungan. Seperti yang dilakukan para perokok yang tinggal di wilayah yang dingin. Orang Barat yang tinggal di kawasan bersalju umumnya melawan dinginnya udara dengan cara merokok. Tidak bisa dipungkiri bahwa merokok itu terlihat begitu santai. Dunia seolah berada di dalam genggaman. Mereka mungkin tidak memikirkan bagaimana tubuh bagian dalam meronta dan tidak mau menerima asap rokok.

Begitu juga dengan orang-orang ataupun sejumlah suku yang tinggal di pegunungan, umumnya banyak yang merokok. Baik yang laki-laki maupun yang perempuan. Untuk kasus ini mungkin lebih mudah dipahami sebagai upaya tubuh menjaga kehangatan. Bila hal yang satu ini telah menjadi suatu budaya, memang berat untuk menghentikannya. Jalur yang sangat cepat menghentikannya adalah dengan cara ketua atau yang dianggap tua menghentikan merokok dan mereka membuat undang-undang atau peraturan yang melarang rokok.

Mencandu

Namun dari sekian banyak alasan merokok, ada beberapa yang cukup mendasar. Di antaranya menyangkut masalah kenikmatan maupun karena kebiasaan sehingga mencandu. Tidak mudah menggambarkan bagaimana kenikmatan yang dirasakan perokok saat menghisap sebatang rokok. Apalagi kenikmatan ini umumnya dirasakan orang-orang yang memiliki profesi atau pekerjaan yang berhubungan dengan seni atau dunia kreatif, seperti seniman, jurnalis, dan sebagainya. Mereka merasa tidak bisa lepas dari rokok. Rokok identik dengan ide.

Rokok berbeda dengan makanan. Rasa rokok pun hambar. Orang yang baru pertama kali merokok umumnya bukan disebabkan oleh rasanya yang enak seperti halnya kita mencicipi makanan. Namun karena rokok mengandung zat kimia yang menyebabkan ketergantungan, maka merokok pun akhirnya mencandu. Inilah bahaya yang dihasilkan dari kebiasaan yang sangat jelek ini.

Kalau sudah demikian, tidak mudah untuk menghentikan kebiasaan merokok. Secanggih dan semenarik apapun kampanye bahaya merokok tak akan dapat mengubah perilaku merokok secara cepat. Oleh karena itu, upaya atau kampanye anti rokok sebaiknya bukan dengan iklan atau poster tentang dampak rokok terhadap kesehatan yang ditujukan untuk para perokok. Pemerintah mungkin lebih baik membatasi jumlah perokok baru, terutama dari kalangan anak-anak dan remaja.

Dengan pembatasan ini, diharapkan alasan merokok untuk kenikmatan yang mencandu dapat dicegah atau dieliminir.

Artikel Kesehatan Kita Lainnya :

0 comments:

Post a Comment

Untuk menyisipkan kode pendek, gunakan <i rel="code"> ... KODE ... </i>
Untuk menyisipkan kode panjang, gunakan <i rel="pre"> ... KODE ... </i>
Untuk menyisipkan gambar, gunakan <i rel="image"> ... URL GAMBAR ... </i>

Copyright © Kesehatan Kita All rights reserved | Design by OnlinePlus - Tips Blogging & Blogger